Selasa, 11 November 2014

Pengaruh Pola Asuh Orangtua pada Kemampuan Anak dalam Bersosialisasi



Pengaruh Pola Asuh Orangtua pada Kemampuan Anak dalam Bersosialisasi

Latar Belakang
      Kemampuan bersosialisasi merupakan kemampuan yang penting dimiliki setiap anak dalam lingkungan. Anak yang memiliki kemampuan bersosialisasi baik cenderung akan memiliki banyak teman, lebih mudah beradaptasi ke lingkungan yang baru, dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Kemampuan anak bersosialisasi dapat dipengaruhi salah satunya oleh pola asuh yang diterapkan orang tua (Bugental, & Goodnow, 1998). Ada berbagai macam pola asuh yang diterapkan oleh orang tua untuk mendidik anak yaitu, authoritative, permissive, authoritarian, dan neglectful (Baumrind, 1998). Pola asuh yang berbeda menghasilkan sifat dan karakteristik anak yang berbeda – beda pula. Pada pola asuh authoritative orangtua akan lebih memperhatikan yang dilakukan anak tetapi tetap mendengarkan pendapat anak. Tipe permissive  adalah orang tua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak .Orang tua yang menggunakan pola authoritarian lebih memaksakan kehendak terhadap anak. Neglectful adalah gaya pola asuh yang tidak ikut campur dan cenderung tidak perduli terhadap apa yang dilakukan oleh anak (Santrock, 2012). Menurut Marcoby dan Martin (1983) cara yang efektif untuk mendidik anak adalah dengan menggabungkan pola asuh yang ada berdasarkan usia dari anak.



Penyebab Orangtua Menerapkan Pola Asuh Tertentu
     Menurut Cowan, Powel, dan Cowan (1998) ada beberapa penyebab orang tua mendidik anak dengan pola asuh tertentu yaitu : (a) membaca buku mengenai cara mendidik anak, dengan membaca buku mengenai pola asuh orang tua dapat mengetahui cara yang baik untuk mengasuh anak ; (b) perawat  dinas kesehatan yang datang dan memberitahu cara untuk mengasuh  anak; (c) menghadiri forum diskusi bagaimana cara mendidik anak; (d) program diskusi yang diadakan di kantor tentang cara mengasuh anak; (e) orang tua yang mengadopsi anak dengan Attention Deficit Hyperactivity  menonton program televisi tertentu; (f) orangtua menghadiri support grup untuk orang tua dengan anak yang mengidap autis; (g) ibu membawa keluarga untuk mengikuti terapi selama 6 bulan dikarekan salah satu dari remaja terlibat tindak kekerasan; (h) kultur (Grotevant, 1998); (i) pola asuh kepada orang tua yang diterapkan sewaktu kecil .
     
Dampak  kepada Kemampuan Bersosialisasi. Kemampuan bersosialisasi seseorang tidak hanya pengaruh dari lingkungan sekitar tetapi kemampuan bersosialisasi dapat dipengaruhi dari pola asuh yang diterapkan kepada anak. Menurut pendapat Baumrind (2013) anak yang diasuh dengan pola asuh authoritarian cenderung menjadi anak yang tidak pandai dalam bersosialisasi, rendah diri, dan juga menjadi anak yang cenderung tidak dapat mengemukakan bendapatnya. Tetapi anak yang di besarkan dalam pola asuh authoritarian cenderung menjadi anak yang baik dan penurut ( Rudy, & Grusec, 2006). Anak yang dibesarkan dengan pola authoritative cenderung menjadi anak yang mandiri, dapat berinteraksi dengan baik, dan dapat diandalkan karena terbiasa dengan perilaku orang tua yang mempercayai tetapi tetap memberi batasann – batasan (Baurmind, 2013). Orang tua yang membesarkan anak dengan pola neglectful kebanyakan tumbuh menjadi anak yang tidak dapat mengontrol diri, tidak mampu bergaul dengan baik di lingkungan sosialnya, dan cenderung manja. Permissive parenting cenderung menghasilkan anak yang tidak mampu bersosialisasi dengan baik, seringkali tidak menghargai orang lain, tidak dapat mengontrol sikap, selalu mengharapkan semua berjalan sesuai dengan kemauannya. Sikap yang ditimbulkan anak dengan pola asuh permissive cenderung menjadi anak yang tidak dapat diandalkan karena orang tua biasa memberi apa yang dimau dan tidak memberikan batasan.

Simpulan
     Berdasarkan pembahasan mengenai pola asuh orang tua dan dampak pada kemampuan anak bersosialisasi, dapat disimpulkan bahwa pola asuh yang baik adalah menggabungkan beberapa pola asuh yang ada sesuai dengan umur. Misalnya saat anak masih berusia 0-3 tahun kita dapat menggunakan authoritarian,  saat mulai memasuki usia 3 tahun menggunakan authoritative. Memasuki usia remaja dapat menggangkan authoritarian dan authoritative. Supaya anak memiliki kemampuan bersosialisasi yang baik, maka diharapkan orangtua dapat memilih pola asuh yang  baik untuk anak. Pola asuh yang orang tua dengan cara mendukung kegiatan, menetapkan peraturan yang disertai  penjelasan, memberikan kepercayaan agar bertanggung jawab, menyediakan waktu untuk berkomunikasi, membe-rikan perkataan positf (Respati Yulianto,Widiana, 2006).

   Daftar Pustaka

 Respati, A. W., Yulianto, A., Widiana, N. (2006). Perbedaan konsep diri antara remaja akhir yang mempersepsi pola asuh orang tua authoritarian,permissive, dan authoritative. E-jurnal Psikologi,4(2), 119-138. Di unduh dari http://www.academia.edu/6233842/Jurnal_pola_asuh
Bugental, D. B ., & Goodnow, J. J. (1998). Socialization processes. In W, Damon(Eds.), Handbook of child psychology : Social, emotional, and personality development (5th ed.). vol.3,389-1105. John Wiley & Sons.
Panjaitannn, D. S., Daulay, W. (2012). Pola asuh orang tua dan perkembangan sosialisasi remaja di
King, L, A. (2013). Human development. The science of psychology : An appreciative view (3rd ed.). Columbia : McGraw-Hill International Education.
Mutiara, P., & Junerman. (2012, Mei). Peran pola asuh orang tua dalam mengembangkan remaja menjadi perilaku dan/atau korban pembulian di sekolah. E-Jurnal sosiokonsepsia,17(2), 173-191. di unduh dari http://www.academia.edu/2487578/Peran_Pola_Asuh_Orangtua_Dalam_Mengembangkan_Remaja_Menjadi_Pelaku_dan_atau_Korban_Pembulian_di_Sekolah
Cowan, P. A., Powell, D., & Cowan, C. P. (1998). Parenting intervention : A family system perspective. In W, Damon (Ed.), Handbook of psychology : Child psychology in practice (5th ed.),vol. 4,5-19. John Wiley & Sons.


Dampak Kecanduan Pornografi terhadap Remaja



                                    Dampak Kecanduan Pornografi terhadap Remaja

Apa itu pornografi?
     Berasal dari bahasa Yunani pornographia yang berarti tulisan atau gambar mengenai pelacur. Kamus Webster mendefinisikan pornografi sebagai “ lukisan tak bermoral yang menghiasi dinding ruangan untuk pesta liar, seperti yang terdapat di Pompei”.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pornografi dirumuskan sebagai : (1) penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu birahi ; (2) bahan bacaan yang sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu birahi / seks.
Ciri-ciri kecanduan pornografi
      Seorang remaja yang kecanduan pornografi tidak  berbeda dengan anak – anak yang lain. Menurut buku sexual recovery ada beberapa ciri seorang mengalami kecanduan pornografi yaitu (a) ketikmampuan untuk menghentikan prilaku kecanduannya, (b) merasa tersinggung atau marah apabila kegiatannya dihentikan , (c) menyembunyikan atau berusaha untuk menjaga rahasia dari semua kegiatan pornografi yang dilakukan , (d) tetap melakukan kegiatan pornografi meski sudah kehilangan hal berharga dalam hidupnya , (e) lebih banyak menghabiskan waktu untuk hal yang berbau pornografi dibandingkan hal yang lebih penting.
Penyebab kecanduan pornografi
      Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang kecanduan hal – hal berbau pornografi antara lain : (a) lingkungan , dapat mempengaruhi perilaku sesorang dalam bertindak ; (b) rasa ingin tahu, pada umumnya usia remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi ; (c) mudah diakses , dengan adanya jaringan internet dan teknologi yang canggih maka dengan mudah dapat dilihat kapan saja dan dimana saja ; (d) dan lainnya, tidak memiliki kegiatan lainnya.

Dampak pornografi
     Dampak secara fisik.
    Seseorang  yang telah kecanduan  pornografi tidak akan puas hanya dengan melihat saja tetapi akan timbul rasa penasaran untuk mencoba. Apabila sudah mencoba maka aka nada dampak yang ditimbulkan antara lain penularan penyakit seksual , pelecehan seksual , kehamilan diluar nikah , tingkat aborsi yang meningkat (menurut Armando dalam Rukhiyat, 2002). Menurut Kastelman  yang dikutip dari detik.com (2014) pornografi dapat merusak 5 bagian pada otak terutama pada pre frontal cortex(bagian otak yang terletak dibelakang dahi) , anorexia seksual , disfungsi ereksi atau impoten , dan tidak memiliki ketertarikan dengan hubungan seks nyata.
    Dampak psikologis
     Dampak yang ditimbulkan pada psikologis Azzahra (2013) yaitu  (a) cara seseorang akan penuh dengan seks semata , (b) memicu seseorang untuk menjadi boros , (c) sering berbohong ,(d) apabila telah menikah maka akan merusak hubungan seksual dengan pasangannya , (e) merusak hubungan dengan lingkungan sekitarnya , (f) nilai moral yang lama kelamaan akan memudar , (g) mengurangi dayab kerja.

Cara penanganan
     Menurut Rukhiyat (2001) cara penanganan yang tepat adalah dengan memberikan edukasi anak – anak di sekolah supaya sedini mungkin anak – anak dapat menghindari pornografi. Selain pendidikan secara formal , pendidikan agama juga harus dilakukan kepada anak. Bukan hanya dengan pendidikan tetapi lingkungan juga harus berperan dalam hal ini terutama lingkungan keluarga. Dengan memiliki keluarga yang saling mendukung maka kemungkinan anak untuk melihat hal yang berbau pornografi dapat diminimalisir. Yang terakhir adalah mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat, contohnya dengan mengikuti ekstrakulikuler sesuai dengan minat.

Kesimpulan
pornografi lebih banyak memiliki efek buruk terhadap fisik dan psikis. Dengan penanganan dan pencegahan yang tepat kecanduan terhadap pornografi dapat dihindarkan. Kelilingi diri dengan aktifitas yang bermanfaat dan positif bagi diri dan lingkungan. Dengan begitu maka akan menghindarkan kecanduan pornografi.









Selasa, 07 Oktober 2014

Eksistensialis menurut kirkegaard

Apa itu eksistensialisme?

Aliran filsafat yang pokok utamanya adalah manusia dan cara beradanya yg khas di tengah makhluk lainnya.

Jiwa eksistensialisme ialah pandangan manusia sbg eksistensi.

Etimologis: ex= keluar, sistentia (sistere)=berdiri. Manusia bereksistensi = manusia baru menemukan diri sbg aku dengan keluar dr dirinya.

Pusat diriku terletak di luar diriku. Ia menemukan pribadinya dg seolah2 keluar dr dirinya sendiri dan menyibukkan diri dg apa yg diluar dirinya.

Hanya manusialah bereksistensi. Eksistensi tdk bisa disamakan dg ‘berada’. Pohon, anjing berada, tapi tidak berseksistensi.

 

Loading...

 

Eksistensialisme dr segi isi bukan satu kesatuan, tapi lebih merupakan gaya berfilsafat.

Beberapa tokoh filsafat yg menganut gaya eksistensialisme, a.l.: Kierkegaard, Edmund Husserl, Martin Heidegger, Gabriel Marcel, Jean Paul Sartre, dll.

Sulit menyeragamkan defenisi mengenai eksistensialisme, krn adanya perbedaan pandangan mengenai eksistensi itu sendiri.

Namun satu hal yg sama: filsafat hrs bertitik tolak pd manusia konkrit, manusia sbg eksistensi, maka bagi manusia eksistensi mendahului esensi.

 

Ciri-ciri eksistensialisme

Motif pokok adalah eksistensi, cara manusia berada. Hanya manusia bereksistensi.

Bereksistensi hrs diartikan scr dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan diri scr aktif, berbuat, menjadi, merencanakan.

Manusia dipandang terbuka, belum selesai. Manusia terikat pd dunia sekitarnya, khususnya pd sesamanya.

Memberi penekanan pd pengalaman konkrit.

Loading...

Siapa Kierkegaard?

Soren Aabye Kierkegaard lahir di Kopenhagen, Denmark 15 Mei 1813. Belajar teologi di Univ. Kopenhagen, tp tdk selesai. Saat 3 saudara, ayah dan ibunya meninggal ia mengalami krisis.

Sempat menjauh dr temannya dan agama.

Sempat bertunangan dg Regina Olsen, tp tdk jadi menikah.

1849 kembali lagi ke agamanya (Kristen).

Meninggal 1855 sbg org religius dan dipandang sbg tokoh di gerejanya.

Dia dikenal sbg bapa eksistensialisme, aliran filsafat yg berkembang 50 thn setelah kematiannya.

Pokok-pokok ajaran Kierkegaard

Kritik thdp Hegel: Kierkegaard memandang Hegel sbg pemikir besar, tp satu hal yg dilupakan Hegel – menurut Kierkegaard – adalah eksistensi menusia individual dan konkret. Manusia tdk dpt dibicarakan ‘pd umumnya’ atau ‘menurut hakekatnya’, krn manusia pada umumnya tdk ada.

Yang ada itu adalah manusia konkret yg semua penting, berbeda dan berdiri di hadapan Tuhan. Manusia itu eksistensi.

Eksistensi berarti bagi Kierkegaard: merealisir diri, mengikat diri dg bebas, dan mempraktekkan keyakinannya dan mengisi kebebasannya.

Hanya manusia bereksistensi, krn dunia, binatang dan sesuatu lainnya hanya ‘ada’. Juga Tuhan ‘ada’. Tapi manusia hrs bereksistensi, yakni menjadi (dlm waktu) seperti ia (akan) ada (secara abadi).

Pokok-pokok ajaran Kierkegaard

Ada tiga cara bereksistensi: tiga sikap thdp hidup, yaitu: sikap estetis, sikap etis dan sikap religius.

Sikap estetis: Merengguh sebanyak mungkin kenikmatan, yg dikuasai oleh perasaan. Cara hidup yg amat bebas. Manusia hrs memilih hidup terus dg kenikmatan atau meloncat ke tingkat lebih tinggi lewat pilihan bebas.

Sikap etis: Sikap menerima kaidah2 moral, suara hati dan memberi arah pd hidupnya. Ciri khasnya menerima ikatan perkawinan. Manusia sdh mengakui kelemahannya, tp belum melihat cara mengatasinya. Bila ia mengakui butuh pertolongan dr atas, maka ia loncat ke sikap hidup religius.

Sikap religius: Berhadapan dg Tuhan, manusia sendirian. Krn manusia religius percaya pada Allah, maka Allah memperlihatkan diriNya pada manusia. Percaya model A ialah Allah hadir dimana-mana. Yang sukar adalah percaya model B: percaya bhw Allah menerima wajah manusiawi dlm Yesus agar bs berjumpa dg Dia. Kita percaya model B, bila kita percaya bhw kita yg lahir dlm waktu bisa menjadi abadi. Kita bs menjadi spt yang kita percayai.

Manusia menjadi spt yg dipercayainya

Pernyataan Parmenides hingga Hegel: ‘Berpikir sama dengan berada’ ditolak oleh Kierkegaard, krn menurutnya ‘percaya itu sama dengan menjadi’. Disini dan kini manusia percaya dan menentukan bagaimana dia akan ada scr abadi. Manusia memilih eksistensinya entah sebagai penonton yg pasif, atau sebagai pemain/individu yg menentukan sendiri eksistensinya dg mengisi kebebasannya.

Waktu dan keabadian

Setiap org adalah campuran dr ketakterhinggaan dan keterhinggaan. Manusia adalah gerak menuju Allah, tp juga terpisah/terasing dr Allah. Manusia dpt menyatakan YA kpd Tuhan dlm iman, atau mengatakan TIDAK. Jika ia mengatakan YA, ia akan menjadi yg ia ada. Manusia hidup dlm dlm dua dimensi sekaligus: keabadian dan waktu. Kedua dimensi itu bertemu dlm ‘saat’. Saat adalah titik dimana waktu dan keabadian bersatu. Kita menjadi eksistensi dlm saat, yaitu saat pilihan. Pilihan itu suatu ‘loncatan’ dr waktu ke keabadian.

Subyektivitas dan eksistensi sbg tugas

Eksistensi manusia bukan sekadar suatu fakta, tp lebih dr itu. Eksistensi manusia adalah tugas, yg hrs dijalani dg kesejatian shg org tdk tampil dg semu. Bila eksistensi suatu tugas, ia hrs dihayati sbg suatu yg etis dn religius. Eksistensi sbg tugas disertai oleh tanggungjawab. Tdk spt berada dlm massa, eksistensi sejati memungkinkan individu memilih dan mengambil keputusan sendiri. Utk itulah Kierkegaard menganggap subyektivitas dan eksistensi sejati itu suatu tugas.

Loading...

Jiwa dan badan


Pengantar

Badan dan jiwa = satu kesatuan yg membentuk pribadi manusia. Kesatuan keduanya membentuk keutuhan pribadi manusia.

Pertanyaan: Bgm mengerti badan dan jiwa? Bgm peranan masing2 dlm membentuk eksistensi manusia?

Pembahasan kita: 1) dua aliran yg melihat badan dan jiwa scr bertolak belakang: monisme dan dualisme. 2) Tanggapan thdp kedua aliran. 3) Pengertian dan hakekat badan dan jiwa.

Loading...

Monisme

Pengertian: aliran yg menolak pandangan bhw badan dan jiwa merupakan dua unsur yg terpisah. Badan dan jiwa adalah satu substansi. Keduanya satu kesatuan yg membentuk pribadi manusia.

Tiga bentuk aliran ini: materialisme, teori identitas dan idealisme. Materialisme = menempatkan materi sbg dasar bagi sgala hal yg ada (fisikalisme). Manusia juga bersumber pd materi. Manusia tdk pernah melampaui potensi jasmaninya. Jiwa tdk punya eksistensi sendiri. Jiwa bersumber dr materi. Eksistensi jiwa bersifat kronologis (hasil hub sebab akibat). Reduksi humanitas pd dimensi fisik punya implikasi negatif pd penilaian atas aktivitas mental.

 

Teori identitas = menekankan hal berbeda dr materialisme, tp mengakui aktivitas mental manusia. Ini menjadi ciri khas manusia. Letak perbedaan jiwa dan badan hanya pd arti bukan referensi. Badan dan jiwa merupakan dua elemen yg sama.

Idealisme = ada hal yg tdk dpt diterangkan semata berdasarkan materi, spt pengalaman, nilai dan makna. Itu hanya punya arti bila dihubungkan dg sesuatu yg imaterial yaitu jiwa. Rene Descartes dg cogito ergo sumnya menjadi peletak dasar dr idealisme.

Loading...

Dualisme

Pengertian = badan dan jiwa adalah dua elemen yg berbeda dan terpisah. Perbedaannya ada dlm pengertian dan objek.

Empat cabang: interaksionisme, okkasionalisme, paraleleisme dan epifenomenalisme. 1) Interaksionisme =fokus pd hubungan timbal balik antara badan dan jiwa. Peristiwa mental bs menyebabkan peristiwa badani dan sebaliknya. 2)Okkasionalisme = memasukkan dimensi ilahi dlm membicarakan hub badan dan jiwa. Hub peristiwa mental dan fisik bisa terjadi dengan campur tangan ilahi. 3) Paralelisme = sistem kejadian ragawi terdapat di alam, sedangkan sistem kejadian kejiwaan ada pd jiwa manusia. Dlm diri manusia ada dua peristiwa yg berjalan seiring yaitu peristiwa mental dan fisik, namun satu tdk jd sumber bagi lainnya.

 

4) Epifenomenalisme = melihat hub jiwa dan badan dari fungsi syaraf. Satu2nya unsur utk menyelidiki proses kejiwaan adalah syaraf.

TANGGAPAN SINGKAT: 1) Pandangan monisme bertentangan dg hakekat manusia sesungguhnya. Plato berkata, badan dan jiwa punya sifat yg berbeda. Badan sementara, jiwa abadi. Kelemahan materialisme= tdk bisa melihat bhw pengalaman bersifat personal. 2) Pandangan dualisme, khususnya paralelisme yg mengatakan badan jiwa dua hal yg terpisah, tdk terkait, sulit diterima. Perbuatan baik muncul dr niat yang baik. Manusia adalah makhluk rohani dan jasmani sekaligus.

Badan Manusia

Badan = elemen mendasar dlm membentuk pribadi manusia. Apa pengertian badan? Pandangan tradisional, badan=kumpulan berbagai entitas material yg membentuk makluk. Mekanisme gerakan badan bersifat mekanistik. Pandangan ini tdk memberikan pandangan utuh ttg manusia. Badan hrs dimengerti melebihi dimensi fisik. Badan menyangkut keakuan. Membicarakan tubuh adalah membicarakan diri (Gabriel Marcel).

Hakekat badan bukan pertama-tama terletak pd dimensi materialnya, tapi dlm seluruh aktivitas entitas yg terjadi dlm badan: tertawa, menangis, berjalan, lari, duduk, dll.

Jiwa manusia

Badan manusia tdk memiliki apa-apa tanpa jiwa. Tidak ada keakuan bila dilepaskan dari jiwa. Dlm pandangan tradisional jiwa – makluk halus, tdk bs ditangkap indera. Konsep ini menempatkan jiwa di luar hakekat manusia. Ini ditolak. Jiwa harus dipahami sbg kompleksitas kegiatan mental manusia. Jiwa menyadarkan manusia siapa dirinya.

James P Pratt menunjuk ada empat kemampuan dasar jiwa manusia. Pertama, menghasilkan kualitas penginderaan.Kedua, Mampu menghasilkan makna yg berasal dr pengeinderaan khusus. Ketiga, mampu memberi tanggapan thdp hasil penginderaan. Empat, memberi tanggapan pd proses yg terjadi dlm pikiran demi kebaikan.

Kekayaan & kompeksitas afektivitas manusia

Bahan kuliah 25 september 2014
Bersumber dari presentasi dosen

Kekayaan dan kompleksitas afektivitas manusia

Yg membedakan manusia dg tumbuhan: afektivitasnya.

Afektivitaslah yg membuat manusia ‘berada’ di dunia, berpartisipasi dg org lain. Afektifitaslah yg mendorong org utk mencintai, mengabdi dan menjadi kreatif.

Cara hadir kita di dunia diperdalam oleh afektivitas.

Afektivitas termasuk kegiatan yg kompleks.

Bgm disposisi afektif dasariah si subyek thdp obyeknya? Seluruh kehidupan afektif berputar pd dua kutub yg bertentangan satu sama lain: mengarah pd obyek krn menyukainya, atau berpaling drnya krn menganggapnya buruk. Cinta = buah afektivitas positif, benci= buah afektivitas negatif. Sebenarnya cintalah yg paling dasariah.

Loading...

 

Sikap mana yg diambil afektivitas berhadapan dg obyek?Thdp obyek yg dianggap berguna subyek mencintainya. Ini disebut cinta utilitaris/bermanfaat.

Bgm sikap subyek dpt ditentukan scr afektif oleh obyeknya? Dibedakan ‘perasaan’ dan ‘emosi’.Kehidupan afektif memperlihatkan macam2 cara yg berbeda2 menurut bgm subyek menguasai obyek. Keadaan afektif yg berbeda2 ini disebut ‘hasrat-hasrat jiwa’ (Thomas Aquinas).

Meninjau ciri khas kebenaran afektivitas yg disebut ‘suasana hati.’ Org bersuasana hati baik: bila semua kemampuan bekerja dg baik.

Apa yg bukan perbuatan afektif

Cinta membuktikan diri dlm perbuatan2. Cinta mendahului perbuatan2.

Kerap afektivitas itu disamakan dengan kesanggupan merasa: Padahal kehidupan afektif bukan hanya menyangkut merasa saja, tapi juga menyangkut hal yg spiritual.

Loading...

Apa yg merupakan perbuatan afektif?

Hidup afektif atau afektivitas=seluruh perbuatan afektif yg dilakukan subyek sehingga subyek ditarik oleh obyek atau sebaliknya.

Perbuatan afektif sedikit mirip dg  ‘perbuatan mengenal’ krn dianggap perbuatan vital/imanen. Tapi perbuatan afektif beda dg ‘perbuatan mengenal’ krn perbuatan afektif itu lebih pasif, sedangkan pada ‘perbuatan mengenal’ subyek membuka diri pd obyek.

Kondisi afektivitas manusia

Agar ada afektivitas, perlu suatu ikatan kesamaan antara subyek dan obyek perbuatan afektifnya.

Apakah kesenangan harus dicurigai? Saya hidup dibawah ‘cara afektif’ kesenangan, bila sy sungguh bersatu dlm perasaan dan pikiran dengan apa yg baik bagi saya. Kesenangan=perasaan yg dialami subyek bila dia dihinggapi oleh keadaan berada lebih baik.

Catatan ttg cinta akan diri, sesama dan Tuhan

Org sering menganggap cinta diri sendiri adalah egoisme, maka tidak baik. Padahal cinta akan diri sendiri dapat ditemukan pada orang yang sanggup mencintai org lain dg sungguh2.

Egoisme menolak setiap perhatian otentik pd org lain. Org egois hanya mengambil untung dr apa saja.

Jika kita mencintai Tuhan dg seluruh jiwa/hati, tdkkah itu sama dg mengasingkan diri dr diri sendiri? Tidak. Tuhan tdk melawan kita. Ia transenden dan imanen. St. Agustinus: Tuhan adalah pokok pangkal kepribadian kita masing2. Ia = dasar dlm mana semua manusia saling berkomunikasi. Makin sy mendekati org lain, makin saya mendekati Tuhan.

Bahan Diskusi Kelompok

Mengapa  dikatakan perbuatan afektif lebih ekstasis, lebih dinamis, dan lebih realistis dari pada perbuatan mengenal?

 

Syarat fundamental apakah yang hrs ada supayaperbuatan afektif bisa terjadi?

 

Apakah psikologi membenarkan pendapat bhw ada perlawanan antara cinta akan diri sendiri dan cinta akan sesama?