Pengaruh Pola Asuh Orangtua pada Kemampuan Anak dalam Bersosialisasi
Latar Belakang
Kemampuan bersosialisasi merupakan
kemampuan yang penting dimiliki setiap anak dalam lingkungan. Anak yang
memiliki kemampuan bersosialisasi baik cenderung akan memiliki banyak teman,
lebih mudah beradaptasi ke lingkungan yang baru, dan memiliki rasa percaya diri
yang tinggi. Kemampuan anak
bersosialisasi dapat dipengaruhi salah satunya oleh pola asuh yang diterapkan
orang tua (Bugental, & Goodnow, 1998). Ada berbagai macam pola asuh yang
diterapkan oleh orang tua untuk mendidik anak yaitu, authoritative, permissive,
authoritarian, dan neglectful (Baumrind, 1998). Pola asuh
yang berbeda menghasilkan sifat dan karakteristik anak yang berbeda – beda
pula. Pada pola asuh authoritative orangtua
akan lebih memperhatikan yang dilakukan anak tetapi tetap mendengarkan pendapat
anak. Tipe permissive adalah orang tua sangat tidak terlibat dalam kehidupan
anak .Orang tua yang menggunakan pola authoritarian lebih memaksakan
kehendak terhadap anak. Neglectful
adalah gaya pola asuh yang tidak ikut campur dan cenderung tidak perduli
terhadap apa yang dilakukan oleh anak (Santrock, 2012). Menurut Marcoby dan
Martin (1983) cara yang efektif untuk mendidik anak adalah dengan menggabungkan
pola asuh yang ada berdasarkan usia dari anak.
Penyebab Orangtua Menerapkan Pola Asuh Tertentu
Menurut Cowan, Powel, dan Cowan (1998)
ada beberapa penyebab orang tua mendidik anak dengan pola asuh tertentu yaitu :
(a) membaca buku mengenai cara mendidik anak, dengan membaca buku mengenai pola
asuh orang tua dapat mengetahui cara yang baik untuk mengasuh anak ; (b)
perawat dinas kesehatan yang datang dan
memberitahu cara untuk mengasuh anak; (c)
menghadiri forum diskusi bagaimana cara mendidik anak; (d) program diskusi yang
diadakan di kantor tentang cara mengasuh anak; (e) orang tua yang mengadopsi
anak dengan Attention Deficit
Hyperactivity menonton program
televisi tertentu; (f) orangtua menghadiri support grup untuk orang tua dengan
anak yang mengidap autis; (g) ibu membawa keluarga untuk mengikuti terapi
selama 6 bulan dikarekan salah satu dari remaja terlibat tindak kekerasan; (h)
kultur (Grotevant, 1998); (i) pola asuh kepada orang tua yang diterapkan
sewaktu kecil .
Dampak kepada Kemampuan Bersosialisasi. Kemampuan
bersosialisasi seseorang tidak hanya pengaruh dari lingkungan sekitar tetapi
kemampuan bersosialisasi dapat dipengaruhi dari pola asuh yang diterapkan
kepada anak. Menurut pendapat Baumrind (2013) anak yang diasuh dengan pola asuh authoritarian cenderung menjadi anak yang tidak pandai dalam
bersosialisasi, rendah diri, dan juga menjadi anak yang cenderung tidak dapat
mengemukakan bendapatnya. Tetapi anak yang di besarkan dalam pola asuh authoritarian cenderung menjadi anak
yang baik dan penurut ( Rudy, & Grusec, 2006). Anak yang dibesarkan dengan
pola authoritative cenderung menjadi
anak yang mandiri, dapat berinteraksi dengan baik, dan dapat diandalkan karena
terbiasa dengan perilaku orang tua yang mempercayai tetapi tetap memberi
batasann – batasan (Baurmind, 2013). Orang tua yang membesarkan anak dengan
pola neglectful kebanyakan tumbuh
menjadi anak yang tidak dapat mengontrol diri, tidak mampu bergaul dengan baik
di lingkungan sosialnya, dan cenderung manja. Permissive parenting cenderung menghasilkan anak yang tidak mampu
bersosialisasi dengan baik, seringkali tidak menghargai orang lain, tidak dapat
mengontrol sikap, selalu mengharapkan semua berjalan sesuai dengan kemauannya.
Sikap yang ditimbulkan anak dengan pola asuh permissive cenderung menjadi anak
yang tidak dapat diandalkan karena orang tua biasa memberi apa yang dimau dan
tidak memberikan batasan.
Simpulan
Berdasarkan pembahasan mengenai pola asuh
orang tua dan dampak pada kemampuan anak bersosialisasi, dapat disimpulkan
bahwa pola asuh yang baik adalah menggabungkan beberapa pola asuh yang ada
sesuai dengan umur. Misalnya saat anak masih berusia 0-3 tahun kita dapat
menggunakan authoritarian, saat mulai memasuki usia 3 tahun menggunakan authoritative. Memasuki usia remaja
dapat menggangkan authoritarian dan authoritative. Supaya anak memiliki
kemampuan bersosialisasi yang baik, maka diharapkan orangtua dapat memilih pola
asuh yang baik untuk anak. Pola asuh
yang orang tua dengan cara mendukung kegiatan, menetapkan peraturan yang disertai penjelasan, memberikan kepercayaan agar bertanggung jawab, menyediakan waktu untuk
berkomunikasi, membe-rikan perkataan positf (Respati Yulianto,Widiana,
2006).
Daftar
Pustaka
Respati,
A. W., Yulianto, A., Widiana, N. (2006). Perbedaan konsep diri antara remaja
akhir yang mempersepsi pola asuh orang tua authoritarian,permissive,
dan authoritative. E-jurnal
Psikologi,4(2), 119-138. Di unduh dari http://www.academia.edu/6233842/Jurnal_pola_asuh
Bugental, D. B ., & Goodnow, J. J. (1998). Socialization
processes. In W, Damon(Eds.), Handbook of
child psychology : Social, emotional, and personality development (5th ed.).
vol.3,389-1105. John Wiley & Sons.
Panjaitannn, D. S., Daulay, W. (2012). Pola asuh orang tua
dan perkembangan sosialisasi remaja di
King, L, A. (2013). Human development. The science of psychology : An appreciative view (3rd ed.).
Columbia : McGraw-Hill International Education.
Mutiara, P., & Junerman. (2012, Mei). Peran pola asuh
orang tua dalam mengembangkan remaja menjadi perilaku dan/atau korban pembulian
di sekolah. E-Jurnal sosiokonsepsia,17(2), 173-191. di
unduh dari http://www.academia.edu/2487578/Peran_Pola_Asuh_Orangtua_Dalam_Mengembangkan_Remaja_Menjadi_Pelaku_dan_atau_Korban_Pembulian_di_Sekolah
Cowan, P. A., Powell, D., & Cowan, C. P. (1998).
Parenting intervention : A family system perspective. In W, Damon (Ed.),
Handbook of psychology : Child psychology in practice (5th ed.),vol. 4,5-19.
John Wiley & Sons.