Selasa, 11 November 2014

Pengaruh Pola Asuh Orangtua pada Kemampuan Anak dalam Bersosialisasi



Pengaruh Pola Asuh Orangtua pada Kemampuan Anak dalam Bersosialisasi

Latar Belakang
      Kemampuan bersosialisasi merupakan kemampuan yang penting dimiliki setiap anak dalam lingkungan. Anak yang memiliki kemampuan bersosialisasi baik cenderung akan memiliki banyak teman, lebih mudah beradaptasi ke lingkungan yang baru, dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Kemampuan anak bersosialisasi dapat dipengaruhi salah satunya oleh pola asuh yang diterapkan orang tua (Bugental, & Goodnow, 1998). Ada berbagai macam pola asuh yang diterapkan oleh orang tua untuk mendidik anak yaitu, authoritative, permissive, authoritarian, dan neglectful (Baumrind, 1998). Pola asuh yang berbeda menghasilkan sifat dan karakteristik anak yang berbeda – beda pula. Pada pola asuh authoritative orangtua akan lebih memperhatikan yang dilakukan anak tetapi tetap mendengarkan pendapat anak. Tipe permissive  adalah orang tua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak .Orang tua yang menggunakan pola authoritarian lebih memaksakan kehendak terhadap anak. Neglectful adalah gaya pola asuh yang tidak ikut campur dan cenderung tidak perduli terhadap apa yang dilakukan oleh anak (Santrock, 2012). Menurut Marcoby dan Martin (1983) cara yang efektif untuk mendidik anak adalah dengan menggabungkan pola asuh yang ada berdasarkan usia dari anak.



Penyebab Orangtua Menerapkan Pola Asuh Tertentu
     Menurut Cowan, Powel, dan Cowan (1998) ada beberapa penyebab orang tua mendidik anak dengan pola asuh tertentu yaitu : (a) membaca buku mengenai cara mendidik anak, dengan membaca buku mengenai pola asuh orang tua dapat mengetahui cara yang baik untuk mengasuh anak ; (b) perawat  dinas kesehatan yang datang dan memberitahu cara untuk mengasuh  anak; (c) menghadiri forum diskusi bagaimana cara mendidik anak; (d) program diskusi yang diadakan di kantor tentang cara mengasuh anak; (e) orang tua yang mengadopsi anak dengan Attention Deficit Hyperactivity  menonton program televisi tertentu; (f) orangtua menghadiri support grup untuk orang tua dengan anak yang mengidap autis; (g) ibu membawa keluarga untuk mengikuti terapi selama 6 bulan dikarekan salah satu dari remaja terlibat tindak kekerasan; (h) kultur (Grotevant, 1998); (i) pola asuh kepada orang tua yang diterapkan sewaktu kecil .
     
Dampak  kepada Kemampuan Bersosialisasi. Kemampuan bersosialisasi seseorang tidak hanya pengaruh dari lingkungan sekitar tetapi kemampuan bersosialisasi dapat dipengaruhi dari pola asuh yang diterapkan kepada anak. Menurut pendapat Baumrind (2013) anak yang diasuh dengan pola asuh authoritarian cenderung menjadi anak yang tidak pandai dalam bersosialisasi, rendah diri, dan juga menjadi anak yang cenderung tidak dapat mengemukakan bendapatnya. Tetapi anak yang di besarkan dalam pola asuh authoritarian cenderung menjadi anak yang baik dan penurut ( Rudy, & Grusec, 2006). Anak yang dibesarkan dengan pola authoritative cenderung menjadi anak yang mandiri, dapat berinteraksi dengan baik, dan dapat diandalkan karena terbiasa dengan perilaku orang tua yang mempercayai tetapi tetap memberi batasann – batasan (Baurmind, 2013). Orang tua yang membesarkan anak dengan pola neglectful kebanyakan tumbuh menjadi anak yang tidak dapat mengontrol diri, tidak mampu bergaul dengan baik di lingkungan sosialnya, dan cenderung manja. Permissive parenting cenderung menghasilkan anak yang tidak mampu bersosialisasi dengan baik, seringkali tidak menghargai orang lain, tidak dapat mengontrol sikap, selalu mengharapkan semua berjalan sesuai dengan kemauannya. Sikap yang ditimbulkan anak dengan pola asuh permissive cenderung menjadi anak yang tidak dapat diandalkan karena orang tua biasa memberi apa yang dimau dan tidak memberikan batasan.

Simpulan
     Berdasarkan pembahasan mengenai pola asuh orang tua dan dampak pada kemampuan anak bersosialisasi, dapat disimpulkan bahwa pola asuh yang baik adalah menggabungkan beberapa pola asuh yang ada sesuai dengan umur. Misalnya saat anak masih berusia 0-3 tahun kita dapat menggunakan authoritarian,  saat mulai memasuki usia 3 tahun menggunakan authoritative. Memasuki usia remaja dapat menggangkan authoritarian dan authoritative. Supaya anak memiliki kemampuan bersosialisasi yang baik, maka diharapkan orangtua dapat memilih pola asuh yang  baik untuk anak. Pola asuh yang orang tua dengan cara mendukung kegiatan, menetapkan peraturan yang disertai  penjelasan, memberikan kepercayaan agar bertanggung jawab, menyediakan waktu untuk berkomunikasi, membe-rikan perkataan positf (Respati Yulianto,Widiana, 2006).

   Daftar Pustaka

 Respati, A. W., Yulianto, A., Widiana, N. (2006). Perbedaan konsep diri antara remaja akhir yang mempersepsi pola asuh orang tua authoritarian,permissive, dan authoritative. E-jurnal Psikologi,4(2), 119-138. Di unduh dari http://www.academia.edu/6233842/Jurnal_pola_asuh
Bugental, D. B ., & Goodnow, J. J. (1998). Socialization processes. In W, Damon(Eds.), Handbook of child psychology : Social, emotional, and personality development (5th ed.). vol.3,389-1105. John Wiley & Sons.
Panjaitannn, D. S., Daulay, W. (2012). Pola asuh orang tua dan perkembangan sosialisasi remaja di
King, L, A. (2013). Human development. The science of psychology : An appreciative view (3rd ed.). Columbia : McGraw-Hill International Education.
Mutiara, P., & Junerman. (2012, Mei). Peran pola asuh orang tua dalam mengembangkan remaja menjadi perilaku dan/atau korban pembulian di sekolah. E-Jurnal sosiokonsepsia,17(2), 173-191. di unduh dari http://www.academia.edu/2487578/Peran_Pola_Asuh_Orangtua_Dalam_Mengembangkan_Remaja_Menjadi_Pelaku_dan_atau_Korban_Pembulian_di_Sekolah
Cowan, P. A., Powell, D., & Cowan, C. P. (1998). Parenting intervention : A family system perspective. In W, Damon (Ed.), Handbook of psychology : Child psychology in practice (5th ed.),vol. 4,5-19. John Wiley & Sons.


Dampak Kecanduan Pornografi terhadap Remaja



                                    Dampak Kecanduan Pornografi terhadap Remaja

Apa itu pornografi?
     Berasal dari bahasa Yunani pornographia yang berarti tulisan atau gambar mengenai pelacur. Kamus Webster mendefinisikan pornografi sebagai “ lukisan tak bermoral yang menghiasi dinding ruangan untuk pesta liar, seperti yang terdapat di Pompei”.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pornografi dirumuskan sebagai : (1) penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu birahi ; (2) bahan bacaan yang sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu birahi / seks.
Ciri-ciri kecanduan pornografi
      Seorang remaja yang kecanduan pornografi tidak  berbeda dengan anak – anak yang lain. Menurut buku sexual recovery ada beberapa ciri seorang mengalami kecanduan pornografi yaitu (a) ketikmampuan untuk menghentikan prilaku kecanduannya, (b) merasa tersinggung atau marah apabila kegiatannya dihentikan , (c) menyembunyikan atau berusaha untuk menjaga rahasia dari semua kegiatan pornografi yang dilakukan , (d) tetap melakukan kegiatan pornografi meski sudah kehilangan hal berharga dalam hidupnya , (e) lebih banyak menghabiskan waktu untuk hal yang berbau pornografi dibandingkan hal yang lebih penting.
Penyebab kecanduan pornografi
      Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang kecanduan hal – hal berbau pornografi antara lain : (a) lingkungan , dapat mempengaruhi perilaku sesorang dalam bertindak ; (b) rasa ingin tahu, pada umumnya usia remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi ; (c) mudah diakses , dengan adanya jaringan internet dan teknologi yang canggih maka dengan mudah dapat dilihat kapan saja dan dimana saja ; (d) dan lainnya, tidak memiliki kegiatan lainnya.

Dampak pornografi
     Dampak secara fisik.
    Seseorang  yang telah kecanduan  pornografi tidak akan puas hanya dengan melihat saja tetapi akan timbul rasa penasaran untuk mencoba. Apabila sudah mencoba maka aka nada dampak yang ditimbulkan antara lain penularan penyakit seksual , pelecehan seksual , kehamilan diluar nikah , tingkat aborsi yang meningkat (menurut Armando dalam Rukhiyat, 2002). Menurut Kastelman  yang dikutip dari detik.com (2014) pornografi dapat merusak 5 bagian pada otak terutama pada pre frontal cortex(bagian otak yang terletak dibelakang dahi) , anorexia seksual , disfungsi ereksi atau impoten , dan tidak memiliki ketertarikan dengan hubungan seks nyata.
    Dampak psikologis
     Dampak yang ditimbulkan pada psikologis Azzahra (2013) yaitu  (a) cara seseorang akan penuh dengan seks semata , (b) memicu seseorang untuk menjadi boros , (c) sering berbohong ,(d) apabila telah menikah maka akan merusak hubungan seksual dengan pasangannya , (e) merusak hubungan dengan lingkungan sekitarnya , (f) nilai moral yang lama kelamaan akan memudar , (g) mengurangi dayab kerja.

Cara penanganan
     Menurut Rukhiyat (2001) cara penanganan yang tepat adalah dengan memberikan edukasi anak – anak di sekolah supaya sedini mungkin anak – anak dapat menghindari pornografi. Selain pendidikan secara formal , pendidikan agama juga harus dilakukan kepada anak. Bukan hanya dengan pendidikan tetapi lingkungan juga harus berperan dalam hal ini terutama lingkungan keluarga. Dengan memiliki keluarga yang saling mendukung maka kemungkinan anak untuk melihat hal yang berbau pornografi dapat diminimalisir. Yang terakhir adalah mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat, contohnya dengan mengikuti ekstrakulikuler sesuai dengan minat.

Kesimpulan
pornografi lebih banyak memiliki efek buruk terhadap fisik dan psikis. Dengan penanganan dan pencegahan yang tepat kecanduan terhadap pornografi dapat dihindarkan. Kelilingi diri dengan aktifitas yang bermanfaat dan positif bagi diri dan lingkungan. Dengan begitu maka akan menghindarkan kecanduan pornografi.