Dampak
Kecanduan Pornografi terhadap Remaja
Apa
itu pornografi?
Berasal
dari bahasa Yunani pornographia yang
berarti tulisan atau gambar mengenai pelacur. Kamus Webster mendefinisikan
pornografi sebagai “ lukisan tak bermoral yang menghiasi dinding ruangan untuk
pesta liar, seperti yang terdapat di Pompei”.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pornografi dirumuskan sebagai :
(1) penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk
membangkitkan nafsu birahi ; (2) bahan bacaan yang sengaja dan semata-mata
dirancang untuk membangkitkan nafsu birahi / seks.
Ciri-ciri
kecanduan pornografi
Seorang
remaja yang kecanduan pornografi tidak
berbeda dengan anak – anak yang lain. Menurut buku sexual recovery ada
beberapa ciri seorang mengalami kecanduan pornografi yaitu (a) ketikmampuan
untuk menghentikan prilaku kecanduannya, (b) merasa tersinggung atau marah
apabila kegiatannya dihentikan , (c) menyembunyikan atau berusaha untuk menjaga
rahasia dari semua kegiatan pornografi yang dilakukan , (d) tetap melakukan
kegiatan pornografi meski sudah kehilangan hal berharga dalam hidupnya , (e)
lebih banyak menghabiskan waktu untuk hal yang berbau pornografi dibandingkan
hal yang lebih penting.
Penyebab
kecanduan pornografi
Ada banyak faktor yang
menyebabkan seseorang kecanduan hal – hal berbau pornografi antara lain : (a) lingkungan
, dapat mempengaruhi perilaku sesorang dalam bertindak ; (b) rasa ingin tahu,
pada umumnya usia remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi ; (c) mudah
diakses , dengan adanya jaringan internet dan teknologi yang canggih maka
dengan mudah dapat dilihat kapan saja dan dimana saja ; (d) dan lainnya, tidak
memiliki kegiatan lainnya.
Dampak
pornografi
Dampak secara fisik.
Seseorang yang telah kecanduan pornografi tidak akan puas hanya dengan
melihat saja tetapi akan timbul rasa penasaran untuk mencoba. Apabila sudah
mencoba maka aka nada dampak yang ditimbulkan antara lain penularan penyakit seksual , pelecehan seksual , kehamilan diluar
nikah , tingkat aborsi yang meningkat (menurut Armando dalam Rukhiyat, 2002).
Menurut Kastelman yang dikutip dari
detik.com (2014) pornografi dapat merusak 5 bagian pada otak terutama pada pre frontal cortex(bagian otak yang
terletak dibelakang dahi) , anorexia
seksual , disfungsi ereksi atau impoten , dan tidak memiliki ketertarikan
dengan hubungan seks nyata.
Dampak psikologis
Dampak
yang ditimbulkan pada psikologis Azzahra (2013) yaitu (a) cara seseorang akan penuh dengan seks
semata , (b) memicu seseorang untuk menjadi boros , (c) sering berbohong ,(d)
apabila telah menikah maka akan merusak hubungan seksual dengan pasangannya ,
(e) merusak hubungan dengan lingkungan sekitarnya , (f) nilai moral yang lama
kelamaan akan memudar , (g) mengurangi dayab kerja.
Cara
penanganan
Menurut Rukhiyat
(2001) cara penanganan yang tepat adalah dengan memberikan edukasi anak – anak
di sekolah supaya sedini mungkin anak – anak dapat menghindari pornografi.
Selain pendidikan secara formal , pendidikan agama juga harus dilakukan kepada
anak. Bukan hanya dengan pendidikan tetapi lingkungan juga harus berperan dalam
hal ini terutama lingkungan keluarga. Dengan memiliki keluarga yang saling
mendukung maka kemungkinan anak untuk melihat hal yang berbau pornografi dapat
diminimalisir. Yang terakhir adalah mengisi waktu luang dengan kegiatan yang
bermanfaat, contohnya dengan mengikuti ekstrakulikuler sesuai dengan minat.
Kesimpulan
pornografi lebih banyak memiliki efek buruk terhadap
fisik dan psikis. Dengan penanganan dan pencegahan yang tepat kecanduan
terhadap pornografi dapat dihindarkan. Kelilingi diri dengan aktifitas yang
bermanfaat dan positif bagi diri dan lingkungan. Dengan begitu maka akan
menghindarkan kecanduan pornografi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar